PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< August 2015 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, July 13, 2010
An imaginary copy of 'Waiting for Godot'

It was a Monday. Everyone was waking up late after sleeping sometime around 4 or 4.30 am due to World Cup finals. Spain won. And for some reason, or for that reason alone, my Twitter timeline went dead quiet.

(Honestly, I found it bliss that my Twitter timeline was quiet the whole day. Although it got me asking, if I want a quiet timeline, what was I doing on Twitter in the first place?)

I choose not to go to the office and draft news packages from home instead. Overall, it was a productive day, work-wise.

I was tingly from a shower and a hair wash in the evening after a whole day of not having one. Then I decided to settle Monday with One Day, a book by David Nicholls--an impromptu, unwise purchase because of the slab of Nick Hornby’s recommendation on the front cover.

I sneak in to my sister’s big, comfy bed and started reading.

I was still trying to trace the last sentence I read in the book when she came home from her internship job. She was making some comments and questions on whether our puppies are still at home. Or has someone picked some of them yet.

“Why aren’t you surprised that I’m at home already?” I ask her when she came in to her room.

“Because this is Monday. And you usually don’t go to work on Mondays.”

She’s right of course, although this was just the one time.

I keep reading while she changed out of her work clothes.

“What’s that about?”

She meant my book.

I told her the short version of it. Two best friends, a platonic relationship, their one night of almost being a lover on a particular date, and then what happens on that particular date for years to come. How both of them turned into adults.

“So, it’s pop?”

“Yeah, you can say so.”

“Oh, good. None of that arty, heavy stuff? I want to read it then.”

“When did I ever read arty, heavy stuff?”

“Like ‘Waiting for Godot’.”

She seems to not heard my protest, that she was just naming random title. So I said it again, “I never read ‘Waiting for Godot’.” 

“Well, some guy mistaken you for that ‘arty, heavy stuff’ and got you a copy of ‘Waiting for Godot’.”

I really couldn’t remember either the guy, or the book.

Did that really happen?

Posted at 01:49 am by i_artharini
Comment (1)  

Tuesday, February 23, 2010
Menembus Murakami

Jika saya pernah berkomentar sesuatu tentang Haruki Murakami--bahwa saya merasa tulisannya kaku, canggung, sampai tergagap-gagap membacanya--maka itu sepenuhnya adalah kesalahan saya sebagai pembaca.

Sampai beberapa waktu lalu (atau beberapa  bulan lalu), ketidakmengertian saya terhadap cara menikmati Haruki Murakami bisa berfungsi sebagai pembuka percakapan (atau email-email).

Ada Mbak Octopus (sekarang lebih sering dikenal sebagai @sheisacuckoo) yang saya tanyai tentang kenapa dia terus-terusan merujuk ke "Norwegian Wood". Pertanyaan itu sudah terlalu lama saya ajukan, tapi kata kunci yang saya ingat adalah "absurditas". Tentang momen-momen absurd dalam hidup. Ada sesuatu juga tentang kekosongan makna, atau mungkin saya mencampuradukkan itu dengan kegamangan.

Saya menghormati selera Mbak Octopus, tapi presentasinya belum meyakinkan saya tentang Murakami.

Ada juga @owlchild. Pesan dari dia, "try "Kafka on the Shore.""

Lalu, tentu saja, ada...(dan di sini saya mengambil jeda untuk mencoba mencari nama sandi yang tepat untuk orang ini) The Great Reader. (Iya, sepertinya ini nama yang tepat. Saya yakin, setiap buku yang ingin saya baca atau saya tanyakan, pasti dia sudah pernah membacanya)

Dalam sebuah surat elektronik untuk dia, saya mengatakan, "currently I'm trying out, yet again, for a Murakami. I find him stiff and cold and a touch 'awkward'. But I read that he once translated a lot of F Scott Fitzgerald's into Japanese and influenced by his work. This gets me curious. Also, I know people, whose taste I admire, liked him. So yeah, I'm not going to give up yet."

(Moral question aside: who sends this kind of email to a stranger? D'oh)

(Ini pasca-Bangkok dan membeli "A Wild Sheep Chase")

Jawaban atas Murakami dari The Great Reader baru saya dengar di sebuah lobi hotel di Kopenhagen. Katanya, "I find him very obsessed with cats."

"He is?"

"Yes, there are always cats in his stories. But I read him a long time ago."

Kalau saja saya sudah membaca beberapa cerita pendeknya ("Blind Willow, Sleeping Woman" dan "Birthday Girl") serta sebagian saja dari "A Wild Sheep Chase" saat percakapan itu terjadi, maka saya juga bisa bilang ke The Great Reader: "And what was his obsession with earlobes?"

What was his obsession with earlobes about, anyway?

And the answer is, I don't know. And I think, it doesn't matter.

That's just one small, random, slightly weird object that he comes to incorporate in his stories. Dan elemen kecil, acak, sedikit aneh itu yang sekarang mulai saya sukai dari Murakami.

(Sebagai orang yang cukup obsesif mencari makna pada berbagai hal, saya cukup lega bisa berdamai dengan kemungkinan 'daun telinga' di kisah-kisah Murakami itu tidak memiliki signifikansi makna apa-apa)

Daun telinga, adalah satu hal kecil, acak, dan sedikit aneh yang mulai saya perhatikan dari kepala orang-orang. Dan saya mulai memperhatikan (kalau tidak bisa dibilang, mencari, atau malah, menggali) yang kecil, acak, dan sedikit aneh dari hal-hal yang saya lihat. Mungkin bisa dibilang, saya sekarang sedang meminjam cara Murakami melihat dunia di sekitarnya.

(Walaupun saya masih harus mendefinisikan daun telinga seperti apa yang "beautifully shaped")

Perjalanan berangkat kerja tadi pagi, menggunakan P6, membuat saya memahami apa sebenarnya yang ada dalam sebagian cerita-cerita Murakami yang sudah saya baca. (Dan mungkin akan membuat saya bisa menikmati lebih banyak karya Murakami)

In my opinion: they're about nothing actually. His stories are about nothing.

I want so desperately to find some grand meaning in his stories, only to find out, there's none. They're just...stories.

Sekarang saya cuma menikmati cerita-cerita itu saja. Tentang, (ternyata) seperti yang sudah disebut Mbak Octopus jauh-jauh hari, 'absurditas'.

Tentang momen-momen interaksi atau kumpulan kejadian yang mungkin terlalu aneh untuk dilepaskan begitu saja. Tentang teman-teman dengan kebiasaan atau pernyataan unik. 

Memang tidak penting, tapi kok ya seperti terlalu ajaib untuk tidak dicatat.

(Dan untuk alasan yang sama, saya kerap menyimpan log percakapan daring dengan beberapa orang)

(Esensinya sepertinya sama, hanya saja Murakami merangkai cerita dengan jauh lebih baik)

Mungkin momen interaksi itu atau kebiasaan-kebiasaan unik punya makna besar, tapi mungkin juga tidak. Sama seperti telinga itu tadi.

Di sini saya teringat kutipan paling kuat dalam film "Ghost Town", diucapkan oleh karakter Gwen (Tea Leoni): "We just get the one life, you know. Just one. You can't live someone else's or think it's more important just because it's more dramatic. What happens matters. May be only to us, but it matters."

Karakter-karakter Murakami (dan cerita mereka) mungkin memang tidak penting. But they mattered. Dan bukankah hidup kita (ya, saya menulis 'kita') lebih banyak dipenuhi dengan momen-momen yang 'matters' itu daripada yang penting secara dramatis?

Posted at 04:49 pm by i_artharini
Comments (3)  

Saturday, August 22, 2009
Percakapan

Pada sebuah detik, aku mendapati kekangenan ini.

 

Akan percakapan yang baik, yang mampu menggerakkan respons dan indera bukan hanya pada permukaan. Aku akan tahu jika sedang berada dalam sebuah percakapan yang aku anggap 'baik' itu. Otakku akan berdenyut, mengingat, mencerna, lalu mulai menuliskan sesuatu di sini. Sering potongan-potongan percakapan 'baik' itu masih akan aku ingat sampai waktu lama.

 

Dengan analogi tersebut, aman diasumsikan bahwa sejak 7 Juni 2009, atau masukan terakhir dalam blog ini, aku tidak lagi mengalami percakapan-percakapan yang masuk kategori 'baik' itu.

 

Setidaknya, tidak ada sesuatu dari semua percakapan itu yang kemudian aku ingat lalu menjadi makanan buat otak, untuk kemudian bisa dimunculkan atau dirasai di sini.

 

Terlepas dari banyaknya waktu yang aku habiskan di Twitter, upaya-upaya percakapan yang dibangun, aku tidak menganggap serius semua itu. Hanya sekadar basa-basi antara sesama orang asing yang jika di dunia nyata akan dilakukan di antrian anjungan tunai, halte bus, atau sekadar sebuah bentuk maya dari, "Permisi, sekarang jam berapa ya?"

 

Aku tidak percaya ada percakapan baik yang bisa terjadi dalam batasan 140 karakter.

 

Salah satu sumber keyakinan itu adalah bab pertama dari "Rafilus"-nya Budi Darma. "Dalam kebosanan pun kadang-kadang kita masih berdebar, karena selamanya kita masih mempunyai harapan, betapa kecil pun harapan itu. Memperoleh rejeki, berjumpa dengan sahabat terkasih, lulus ujian kesehatan, dan lain-lain adalah riak-riak kecil yang dapat memberi kenikmatan."

 

Aku cukup percaya ini adalah kutipan yang baik. Dan aku hampir saja mengetikkan dan mengirimkannya di Twitter. Kemudian yang terbayang adalah berapa tweet yang harus dikirim untuk menyampaikan sesuatu yang sederhana tapi indah seperti itu. Proses mekanis pengiriman kutipan itu kok terancam menghilangkan efek dahsyat dari kumpulan kata 'debaran', 'harapan', atau 'riak kecil'. Contoh-contoh peristiwa hidup yang disebut Budi Darma di kalimat-kalimat di atas pun sebenarnya sesuatu yang trivial, tapi tak menjadikan pemahamannya sebagai sesuatu yang klise.

 

Lainnya lagi, kalimat-kalimat Budi Darma itu diberi kesempatan bernafas. Ada struktur yang dipatuhi. Ia membangun klimaks/antiklimaks dengan penyusunannya. Hal-hal yang belum aku temukan dalam sistem reply, retweet, pertukaran atau pengumuman tautan, atau lontaran pemikiran yang langsung diekspresikan tanpa mungkin sempat dicerna lama.

 

Sepertinya kita sedang berputar-putar, tetapi penyadaran yang waktu itu aku alami terjadi lumayan cepat. Sehingga aku sampai pada kesimpulan, jika kamu menginginkan sesuatu yang bermakna lebih, jangan mencari itu dalam batasan 140 karakter. Mungkin bisa saja kamu akan menemukannya, tapi jangan terlalu berharap akan peluangmu. Kesalahanku adalah menganggap Twitter sebagai sebentuk blog mini.

 

***

 

"Yang gue khawatirin dari puasa, nggak bisa ngelamun jorok siang-siang gitu lho. Padahal itu kan aktivitas yang biasa dilakuin kalo siang-siang lagi nggak ada kerjaan."

 

"Bisa kok. Tapi harus dibawa ke arah yang positif," kata Nona Larutan Buffer alias Ccr. Semua dengan pandangan positif dan optimis, sementara aku masih berpikir: gimana caranya ngelamun jorok bisa dibawa ke arah yang positif? "Eh tapi, ini sesuatu yang bisa disiasati nggak sih? Hehehehe," tambah dia dengan mata membesar.  

 

"Jadi gini, siang-siang, lo ceritanya ketemu di masjid."

 

Ealah, positifnya itu maksudnya cuma karena lokasinya masjid?

 

"Nah terus pisah dulu. Lanjut lagi sore-sore, ketemu di gang-gang kecil yang banyak toko buku di Paris. Baru deh, pas udah maghrib, nanti bisa lo puaskan imajinasi itu dengan…ya gue nggak bisa membayangkan pakai apa ya. Hahahaha." Menjelang tawa di akhir itu, Ccr mulai ngangkat mug kaca dengan tangan kirinya, sejengkal di atas meja. Gestur yang memberi kesan dia menyarankan aku melakukannya dengan mug kaca itu. Tangan kanannya menutup pelipis dan mata kanannya.

 

"Jadi lo buat aja ceritanya panjang, Nar. Terus bisa dikirim buat lomba cerpen Femina. Hadiahnya Rp 4,5 juta lho. Kalau lo bisa buat ceritanya panjang banget, hadiahnya malah Rp 10 juta. Itu kan yang dilakukan orang-orang jaman dulu? Atau enggak?"

 

***

 

Gestur, suara tawa manusia—jenis yang dihasilkan jika tertawa dilakukan dengan seluruh bagian tubuh, bukan sekadar ketikan 'Hahahaha' dari jari—keabsurdan ide dan arah percakapan, serta yang terpenting, sensasi keterhubungan itu. Himpunan semua itu sepertinya yang aku kangeni dari sebuah percakapan.

 


Posted at 04:56 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, June 07, 2009
Pertemuan khas Jakarta

Jumat kemarin, inilah kalimat-kalimat Kerouac yang membuatku tertusuk. Waktu di M19 dan membaca 'Lonesome Traveler'. Babnya 'Big Trip to Europe', dan Kerouac sudah tiba di Paris.

 

"I stopped at a cafe, ordered Cinzano, and realized the racket of going-to-work was the same here as in Houston or in Boston and no better--but I felt a vast promise, endless streets, streets, girls, places, meanings, and I could understand why Americans stayed here, some for lifetimes."

 

Selanjutnya adalah sebuah paragraf. Aku mulai dari titik terdekat dari bagian akhir. "Then I sat in a little park in Place Paul-Painleve and dreamily watched a curving row of beautiful rosy tulips rigid and swaying fat shaggy sparrows, beautiful-short haired mademoiselles strolling by. It's not that French girls are beautiful, it's their cute mouths and the sweet way they talk French (their mouths pout rosily), the way they've perfected the short haircut and the way they amble slowly when they walk, with great sophistication, and of course their chic way of dressing and undressing.

 

Paris, a stab in the heart finally."

 

* * *

 

Jumat seharusnya hari libur, tapi pada jam 10 malam sebelumnya aku baru ingat ada sebuah diskusi kelompok fokus di kantor yang harus aku tunggui dan liput. Dan itu tidak bisa dialihkan karena aku jadi semacam salah satu project officer dalam rangkaian acara itu.

 

Karena lupa acara itu, aku sudah membuat janji wawancara paginya di sebuah tempat dekat kantor dengan seorang konselor yang pada akhirnya malah memberi pesan-pesan tidak terlalu tersembunyi soal perilaku.

 

Aku menyebut sesuatu soal hilangnya sopan santun atau pembuka dan penutup yang jelas dalam interaksi sosial, sehingga fungsi sosial jadi kabur. Ibu konselor menyebut soal orang yang tidak biasa menerima ucapan terima kasih atau dihargai, dan ketika menerimanya, jadi memberi reaksi yang 'aneh'. Aku lupa apa yang terus membuat dia menyebut-nyebut soal "kalau misalnya kamu pacaran, terus kamu nggak pernah bilang sayang, jangan heran dong kalau pacar kamu terus pengen sama orang lain. Memilih orang yang...afeksinya lebih nyata."

 

Hmm, my mother said something of the like once. Menurut dia, rasa afeksiku kurang nyata, dalam urusan romansa salah satunya. Well, mom,maybe it's because I don't see anything or any signs that makes it worthwhile to not be ja-im?

 

"Padahal kita sukanya udah menggebu-gebu, tapi kalau nggak dibilangin, ya percuma aja. Masalahnya kan cuma diterima atau ditolak. Kalau ditolak, ya udah, jadi kamu bisa bebas mencari yang lain. Jangan terus kita sibuk sendiri sama asumsi yang sudah sampai wuiihhh...padahal kita yang rugi sendiri."

 

Itu dari ibu konselor. Sengaja aku tuliskan agar menjadi encouragement buat para pembaca, hehehe.

 

Seselesainya wawancara, dan sekeluarnya dari tempat itu, aku mencari ojek untuk ke kantor. Pangkalannya kosong.

 

Lalu ada sopir bajaj yang sibuk membenahi bajajnya. Aku dekati dan aku tanya, "Narik, Pak?"

 

Bibir si sopir masih menjepit sebatang rokok. Dan dia berkonsentrasi pada kemudinya seperti tidak mendengar pertanyaanku. "Pak. Narik, Pak?"

 

Baru dia menoleh, "Ya iya, neng."

 

Aku naik, menyebutkan tujuan, si abang menyebut harga, mesin dinyalakan dan bajaj diputar.

 

"Mbak. Mbak kerja di xxxTV ya?"

 

Untuk gampangnya, aku jawab iya. Setidaknya kita bekerja di kompleks yang sama.

 

"Mbak, biasanya yang kerja di sana pinter-pinter kan? Mbaknya pasti pinter kan?"

 

"He? Emang kenapa, Pak?"

 

"Kalau ada soal 'x pangkat 3 tambah y pangkat 4 sama dengan 5 tiga perempat pangkat 4' itu gimana mbak? Saya minta tolong ini, mbak. Tolooongg sekali. Masih inget nggak, mbak?"

 

"Wah, enggak pak."

 

"Saya minta tolong ini, mbak. Benar-benar minta tolong."

 

"Tapi saya lupa, Pak." (Dan pada saat diajarkan pun, aku tidak yakin pernah mengerti konsep itu dengan tepat)

 

"Biasanya kan mbak, kalau cuma x pangkat 3 tambah y pangkat 4 terus ada hasilnya, saya juga bisa. Lha wong saya dulu juga sekolah kok. Sampai SMA lho. Tapi ini udah per-per-an, dipangkat lagi. Wah saya ya bingung."

 

"Iya, pak, saya juga bingung."

 

"Seinget saya dulu itu pangkatnya harus disamain, tapi wuah, sampai pusing saya mbak. Saya bawa bolpen ke mana-mana. Nanya penumpang di jalan. Mbak itu orang keempat yang saya tanyai."

 

"Emang buat apa pak?"

 

Lalu berceritalah si sopir bajaj soal ceritanya. Anaknya sudah pada usia masuk kuliah dan dia sedang mendaftar untuk beasiswa. Pak sopir bajaj mendaftarkan segala urusan administrasi si anak, dan aku tidak mengonfirmasi bagian ini, melihat soal-soal tes masuk. Salah satunya itu tadi.

 

Bentuk beasiswanya adalah keringanan biaya per semester. Dari yang Rp 9 juta per semester, jadi Rp 3 juta per semester. Si sopir bajaj masih meragukan kualitas universitas yang memberi anaknya beasiswa.

 

"Bagus nggak mbak?"

 

"Lumayan kan, pak?"

 

"Jadi yang bener yang mana?

 

"Maksudnya?"

 

"Sebelum mbak, ada tiga orang lain yang bilang kurang bagus."

 

"Bandingannya apa pak?"

 

Ia lalu menyebut nama sebuah universitas lain. "Yaaa, kalo dibandingin itu, lebih bagus yang tempat anak bapak ngelamar kali."

 

Tapi lalu dia kembali pada hal yang paling mencemaskannya, ujian tes masuk. Dia mengucapkan kata-kata yang sudah lama tidak aku dengar, 'pembilang', 'penyebut', lalu anaknya yang mengambil SMK daripada SMA, dan bagaimana dia khawatir itu dapat mengurangi kesempatan anaknya untuk mampu menjawab soal ujian masuk.

 

Sampai di tujuan, depan gerbang kantor, aku turun, dan si abang masih meneruskan percakapan. "Lha saya kan cuman sopir bajaj, mbak."

 

Aku langsung berasa menjadi Cut Mini karena ingin bilang, "Biar bapaknya sopir bajaj, anaknya harus sarjana," atau sesuatu seperti itulah. Tapi ternyata si bapak sudah punya seorang anak sulung yang sedang praktek kerja lapangan di suatu tempat di Kalimantan karena perkuliahannya di IKIP (dia masih menyebutnya itu). Si anak sempat mampir ke Jakarta, tapi tak sempat bertemu ayahnya karena mesin bajaj yang rusak, dan si ayah baru bisa sampai rumah jam 1 malam.

 

Si sulung membawa tas ransel dan menitip pesan pada adiknya, "Salam aja buat Bapak."

 

"Kakak itu duitnya banyak, Pak. Aku diajak ke supermarket. Dibeliin permen, dikasih uang 4 ribu, terus dibeliin sepatu," si bapak meniru kata-kata anaknya. "Tapi kenapa ya mbak, sudah saya kirim itu telponnya (mungkin sms), dia nggak pernah nerima? Apa ilang telponnya?"

 

Selanjutnya ada cerita juga soal sawah yang ia dapat sebagai warisan dari orangtuanya 15 tahun lalu, lalu ia gadaikan untuk biaya kuliah si sulung. Sekarang, ia punya Rp 8 juta untuk biaya kuliah si adik. Berbalik dari cerita sebelumnya, ternyata si adik itu sebenarnya sudah diterima di universitas yang memberi beasiswa itu. Belum puas tapi, dan soal rumit itu ternyata untuk mendaftar di Universitas Indonesia.

 

"Sama teman-teman, tetangga-tetangganya, dia itu sering dibilang 'kelas berat'. Temennya aja yang bermobil segen ama dia. Maaf ya, mbak, kalau saya ngambil waktu mbak buat cerita."

 

* * *

 

Aku yakin akan terlambat buat janji ketemuan makan malam dan bertukar cerita di Grand Indonesia. Jam 6.30 aku baru berangkat dari kantor karena narasumber ini sulit ditemukan celah menghentikannya.

 

Turun metromini di daerah Kemanggisan, berharap dapat ojek dari situ, ternyata kosong. Mungkin karena ini Jumat malam. Taksi juga, duitnya mepet. Jadi oke, di depan pasti ada ojek.

 

Berjalan sekitar lima menit dan jam sudah tinggal 15 menit menuju 19.30, lalu dari belakang ada seruan, "Ojek, neng?"

 

Aku menyebut tujuan, si abang meminta harga 45 ribu, yang aku tawar langsung jadi 20 ribu. Dia minta 30, aku berkukuh di 25. Dia setuju.

 

Helm yang dia tawarkan dan aku pakai ternyata…."Bang, ini helm apa, kok kopong sih?"

 

"Ya abis orang sering bilang kotor, jadi busanya saya copot."

 

Waktu dipakai, aku jadi merasa seperti hiasan anjing angguk-angguk di dasbor mobil. Helm kopong itu jadi kepala anjing yang terus mengangguk-angguk sendiri. Ada gema setiap kali aku bicara.

 

Di daerah Kebon Kacang, abang ojeknya sempat melawan arus terus belok kanan dan mengambil arah ke Teluk Betung. Aku minta turun di pintu masuk dekat Coffee Bean.

 

"Ada lima ribu, bang?"

 

"Ada."

 

Terus si bapak ojek ini senyum ngelihat aku. "Kalau diliat dari muka, kamu itu pasti masih muda sekali ya?"

 

"Hah? Kok bisaaaa?" aku bilang, sambil masih mengaduk-aduk lembar 10 ribuan yang tersisa. "Emang mudanya berapa pak?" Ini ditanyakan, murni untuk alasan vanity, walaupun agak berjudi.

 

"17 tahun," kata si bapak, straight-faced.

 

Nah, dari anjing dasbor aku langsung merasa jadi Manohara. Cewek-cewek di sekitarku sering bilang, "Manohara tuh umur berapa siiihhh? 17 tapi kok udah kayak…29, 30?" Ternyata efek itu bisa dilihat sebaliknya, perempuan usia 26 seperti aku sekarang bisa dikira 17 tahun karena faktor M.

 

Mbak Octopus yang jadi teman makan malam Jumat itu sudah duduk menunggu di depan lift. ATM, kamar mandi, pilih tempat makan, akhirnya duduklah di sebuah restoran Asia.

 

"Jadi, gimana Eropa?"

 

Hihihi. Di sini identitasku berubah lagi. Aku pikir cuma Sofia Coppola atau Kirsten Dunst atau Claire Danes atau Natalie Portman yang bisa mengajukan pernyataan, "I've just been back from Europe" atau diajukan pertanyaan "So, how's Europe?" oleh teman-teman dekatnya, dan bercerita seolah mereka mendapat pencerahan yang semakin memperdalam sudut pandang estetis mereka. It turns out, I can do that too.

 

I talked a lot that night, I think. Dari soal mekanisme doa, meet cute, meresensi dadakan, lukisan, teori soal Paris yang menurutku tidak tepat jadi tempat tujuan bulan madu. Satu ingatan favorit adalah Amsterdam yang tidak berubah, seperti aku habis pergi satu bulan terakhir, dan kembali ke sana dan mendapati semuanya tetap sama. Orang-orang punya selera berpakaian yang berbeda, memang. Selain itu, semuanya tetap sama. Bahkan aroma panggangan pastry di supermarket Albertheijn.

 

Beberapa orang sempat bertanya, "You must be really excited to be back here."

 

Jawabanku adalah "maybe" yang cukup kabur. "Fakta itu belum terbenam di otakku. Atau mungkin karena saking overwhelmingnya ya." Atau mungkin lagi, karena aku berada di sana seharusnya menjadi satu keniscayaan. Jadi ketika ada di sana ya, business as usual saja.

 

Selesai itu kami mencari yogurt, dan hanya ada Sour Sally, yang aku sudah swear to never buy again. Dan akhirnya beli gelato di Gelato Bar. Aku pilih rasa white chocolate, dan ada cerita lanjutan soal Paris dan es krim Berthillon.

 

Aku dan mbak Octopus berjalan menuju tempat perhentian bis masing-masing. Keluar pada jam 10, tepat saat toko-toko tutup, dan jalanan menjadi penuh dengan pekerja toko, para penjemputnya, tukang ojek mencari penumpang dan mobil-mobil mewah yang keluar dari pusat pertokoan.

 

Di jembatan kami melihat seorang bapak bertubuh kerdil sedang tidur telungkup, hanya memakai celana panjang, sambil salah satu tangannya memegang lembaran uang. Mbak Octopus mengucapkan sesuatu soal kasihan melihat. Dan saat menuruni tangga, kami sedang membicarakan tentang…membeli rumah? Aku tidak ingat lagi.

 

Kaki menjejak di depan hotel Nikko, berbelok ke kiri dan di depanku ada wajah yang butuh beberapa detik untuk dikenali. "Lho?" (seingatku aku bilang begitu, tapi mulutnya sepertinya juga menggesturkan ucapan ini. Aku lupa apa suaranya dia keluar atau tidak)

 

"Apa kabar?" (ini aku, dengan penekanan soal pentingnya pembuka dan penutup resmi dalam interaksi sosial)

 

Aku lupa jawabannya apa. Tangan yang ia ajukan untuk dijabat terasa dingin dan setengah lembab. Jabat tangan sekenanya.

 

"Oh," aku ingat ini selanjutnya yang dia bilang. Gestur jarinya terlalu tidak jelas sebenarnya untuk menyuruh menunggu tetapi ia membuka ritsleting tas. Dia mengaduk dan mencari sesuatu di dalamnya, dengan satu tangan masih menggenggam bungkus Sampoerna A Mild yang penyok-penyok di bagian dasarnya. Aku melihat kaleng bir di dalam tasnya. Dalam hati aku berkomentar, 'persediaan'. Hampir aku lontarkan, tapi memilih tidak. Apa ada sekilas aroma sabun? Nggak ingat. But he's usually clean shaven, this time I saw blackish stubs above his lips.

 

Sesuatu dia tarik dari tasnya, dia berikan tepat di depan wajahku. A Short History of Tractors in Ukrainian, lalu lambang penerbit Gramedia di pojok kanan atas. "Ini berarti rejekimu," kata dia, terus langsung menaiki tangga jembatan penyeberangan.

 

"Hah? Makasih."

 

Tanpa menoleh ke bawah atau ke samping, bergerak dan berjalan semakin cepat, dia melambaikan tangan kirinya.

 

"Meet cute, Nar." Ini dari Mbak Octopus yang (hah sopan santunku ke manaaaa?) tidak aku kenalkan pada hantu pemberi buku barusan.

 

Dalam hati aku bilang, enggak, ini meet strange.

 

Kalau ini adalah sebuah film, setelah mbak Octopus bilang "Meet cute, Nar," aku akan membalas deadpan dengan "Bukan, ini meet strange." Terus jeda satu detik, dan menggelegarlah "Hello, hello, hello, goodbyeeeee," dst dst dari "Hello, Goodbye"-nya The Beatles.

 

Yah, pertemuan-pertemuan khas Jakarta bertumpuk dalam satu hari. Semuanya lebih ajaib dari yang berikutnya.   


Posted at 01:16 am by i_artharini
Comments (4)  

Saturday, April 25, 2009
Indera 2

My eyes have been causing quite a few problems.

Dari keengganan memakai kacamata (karena kata Dorothy Parker: Men won't make passes at girls who wear glasses dan seorang teman yang juga enggan memakai kacamata karena alasan: "Nanti gue kelihatan pinter dong. Padahal 'jualan' gue kan bukan pinter". Yeah, yeah, super shallow, I know), aku beralih ke lensa kontak. 

Nah, di sini nih masalahnya berawal. 

Pada suatu hari tahun lalu, aku berusaha mencabut-cabut lensa kontak itu dan nggak bisa dapat apa-apa. Aku pikir, karena aktivitas naik ojek dan sebagainya, itu lensa sudah terbang ketiup angin. Keesokannya aku ganti yang baru.

Anehnya kok mataku nggak bisa fokus, dan meraaaah banget. Dicopot, dipakai lagi, tetap nggak bisa fokus. Bahkan, pada satu waktu, ada masa perjalanan naik P6 dari Cawang sampai MPR, mataku nggak bisa dibuka saking sakitnya.

Ternyata, lensa yang awalnya aku pikir sudah terbang dan nggak bisa dicabut, masih tetap terpasang. Penyebab mataku nggak bisa fokus adalah aku menumpuk dua lensa. Lensa yang awalnya tidak kunjung bisa dicopot sudah terpasang nonstop dua sampai tiga mingguan.

Dari situ aku masih tetap memakai lensa kontak.

Bahkan sampai dibawa ke perjalanan Vietnam-Kamboja. Baru menjelang akhir perjalanan di Kamboja yang berdebu menggunakan tuk-tuk terekspos udara terbuka itu, aku menemukan satu tips di Lonely Planet's Southeast Asia on a Shoestring Budget. "Cambodia is very dusty. So pack your glasses instead of your contacts. Afraid to look like an old lady you say? You'll be drooling on the plane anyway, so what's a drool compared to a couple of old lady glasses?"

Perbandingan yang aneh sih, tapi aku paham apa yang disampaikan. Aku segera menggunakan kacamata. Walaupun itu terlambat, sempat ada beberapa hari yang aku sampai nggak bisa membuka mata waktu di sana. Yang ohmyGodohmyGodohmygod, kalau aku sampai nggak bisa lihat Angkor Wat kan kacau banget. Bayarnya udah mahal lagi. Untungnya, crisis averted. 

Kembali ke Jakarta, gejala-gejala serupa datang dan pergi. Sampai akhirnya aku benar-benar nggak tahan melihat cahaya. Mataku secara alami tertutup begitu menginjak luar ruangan. So I went to the doctor, dapat obat yang cukup mahal dan vitamin, dan sembuh.

But I never went back to my remaining sets of contact lenses. Instead, I bring (not wear) my glasses with an old prescription. Dikeluarkan pada momen penting, seperti untuk nonton film atau nunggu bis gelap-gelap di pintu tol, tapi seringnya tetap tersimpan di tas.

***

Masalah pertama terjadi sebuah Selasa, empat hari setelah Situ Gintung jebol.

Datang ke kantor, say hi-hi kanan kiri ke Reporter Pop (ahem, hem) terus bergerak ke akuarium ruang membaca. Berseberangan dengan meja kerja Reporter Pop, ada seorang pria, muda aku rasa, mengenakan sweater bertudung.

Walaupun di dalam ruangan, tudungnya ditarik ke atas menutupi kepala dan setengah muka. Aku sempat memicingkan mata tapi tidak bisa mengenali. Bersamaan dengan aku berbalik badan, tudungnya diturunkan dan si pria muda ini melihat ke arahku. Tapi aku sudah keburu jalan ke akuarium.

Beberapa langkah, barulah komputer di kepalaku memunculkan tanda: MATCH! Lha itu kan tadi si xxx, aku pikir. Aku tetap berjalan terus karena sebuah unpleasant incident melibatkan Facebook yang terjadi Sabtu lalu antara aku dan dia membuat aku kesal.

Sekembalinya ke meja kerja, aku log in di Facebook dan melihat ada perubahan status dari si xxx. "Badan segede gini, tetep nggak ngeliat. Buta apa tuh orang?"

Ouw ouw. Dan for the record, yes, I'm half blind.

Insiden Sabtu yang melibatkan Facebook juga serupa seperti ini. Cuma aku yakin tidak memprovokasinya seperti sekarang. Dan itulah untuk pertama kalinya aku menggunakan fitur "Hide Newsfeed" untuk telegram-telegram yang aku terima di beranda Facebook.

***

Yang kedua terjadi Jumat malam, karena aku pulang sendiri dari kantor.

Waktu melewati parkiran, ada sebuah mobil tipe sedan yang lampunya nyala. Si pemilik sepertinya sedang bersiap meninggalkan parkiran. Lalu terdengar sebuah sahutan keras, "Nari!"

Datangnya dari mobil yang siap pergi itu.

"Kamu mau ke mana?"

"Pulang. Siapa sih?"

"Ke mana? Pintu tol? Bareng gue aja."

"Oke, oke. Tapi, siapa sih? Nggak kelihatan."

"Masak nggak kelihatan. Suaranya? Masak nggak ngenalin?"

Menyalakan komputer di otak kepala, berusaha mencari kesamaan dengan sampel suara yang baru aku dengar. Hasilnya, sayangnya, negatif. Nama "Nari" memang jadi sering disebut-sebut in vain (seperti nama Tuhan, hahaha), cuma aku rasa ini orang punya semacam keakraban tertentu sama aku. Tapi siapa? Siapa? Siapa?

"Enggak. Siapa sih? Aku lupa."

Akhirnya si pemilik mobil menyalakan lampu.

"YA AMPUUUUNNNNN. KANG XXXX."

"Masak sih kamu nggak bisa ngelihat?" Orang ini bertanya nggak percaya.

"Iya, Kang. Aku lagi nggak pake kacamata."

Benar-benar ya. Out of sight itu out of mind. Padahal ini orang, selama empat bulan itu tak lelah menyemangati, mengajak ngobrol, bertukar pikiran, memberi ide, memudahkan (walaupun kadang juga menyulitkan) kami di MI Siang. Singkatnya, dia pemimpin favoritku dalam semua proses itu.

Pas aku naik ke mobilnya, dia menerima telepon. "Sorry, sebentar ya, Nar." Oh, how polite.

***

Jer tahu soal cerita pertama. Terus dia ada waktu aku cerita ke Ccr soal kekonyolan pertemuan dengan Kang xxxx itu. Ccr juga habis bertemu sama si Kang xxxx itu, jadi aku berbagi cerita juga soal pertemuan konyolku.

Jer bilang, "Mata lo tuh emang udah mbuat masalah, Nar. Lo bener-bener nggak inget sama Kang xxxx gitu?"

"Beneran, nggak. Apa karena waktu itu malem, terus dia kan item juga. Jadi beneran nggak keliatan."

"Keterlaluan lo, Nar," ini Ccr ikut manas-manasin. "Jangan-jangan status lo enggak berubah-berubah cuman gara-gara kacamata."

Tapi kalau pakai malah men won't make passes.

Sial.


Posted at 11:32 pm by i_artharini
Comments (4)  

Indera

So okay, setelah menonton beberapa film Perancis untuk tujuan review dan makan kaya toast with butter, telur rebus setengah matang dan kopi susu untuk tujuan hiburan, aku pulang naik taksi.

Aku sebutkan tujuan kepada supir taksi tarif bawah lalu mengeluarkan alat bantu dengar yang baru dibeli untuk pemutar mp3.

(Jeda sebentar, sepertinya aku menemukan nama tepat untuk pemutar mp3, si hitam Samsung YP-U3 itu. Lagi berpikir-pikir, ini alat sebenarnya bisa merubah mood dengan cepat, tergantung albumnya siapa yang ada di dalamnya. So it's a mood-altering device, disingkat MAD. Cocoknya...Maddie? Madge? It's a she? Kayaknya lebih cocok cowok deh. Dan yang pertama teringat adalah Maddox. Well, this is a Korean device, not a Cambodian one. And I bought it. Well, belum tahu sih Maddox itu adopsi atau hasil perdagangan manusia, hehehe. Terus aku ingat, Ford Madox Ford! Ford Madox! Atau Maddox, bisalah. Biar membedakan sama yang asli. Kan laptopnya udah Ford Prefect, hahaha. There it is, he's officially Ford Maddox)

The Postal Service jadi terasa seperti si roti kaya toast atau soft boiled eggsnya. Sederhana tapi menyamankan. Aku mendengarkan mereka buat mengedit, buat teman perjalanan pulang di malam hari, dan untuk perjalanan berangkat di pagi atau siang hari.   

Dengan earphone yang baru itu pula aku mendengar The District Sleeps Alone Tonight. Dan dalam upaya tanpa henti mendefinisikan apa itu Gibbardism, aku baru bisa menangkap kekayaan nuansa dan atmosfer yang coba dibangun The Postal Service. Wujudnya berupa bebunyian efek-efek elektronik yang semakin mengeskalasi, dikelupas bungkusan-bungkusan peredamnya.

Volumenya bisa aku kecilkan sampai skala 10 atau 12, padahal sebelumnya aku tidak bisa mendengar apa-apa sampai volumenya dikeraskan ke 20. Terakhir malah sudah ke 28-29 dan 30.

Anak perempuan bosku yang sesekali datang ke kantor dan masih kelas 3 SD pernah meminjam Ford Maddox.

"Tante, ini 'Fag Hag' ya?"

Aku hampir tersedak. Dari mana dia pernah dengar 'fag hag'?

"Lho kok tahu?"

"Iya, tadi aku denger di mp3-nya Tante Ccr. Dia juga punya lagu ini."

It was Lily Allen, guys.

"Kamu bisa denger?" aku tanya. "Kan earphone-nya suka mati-mati gitu."

"Iya sih. Kalau gini," terus dia menaikkan bahu kanannya, "mati. Kalau gini," gantian bahu kirinya yang dia naikkan, "yang ini yang mati," sambil menunjuk ke earphone telinga kiri.

Sekarang, mendengar Ben Gibbard menyanyi, "you look so out of context//in this gaudy apartment complex," aku baru tersadar, betapa bisa mendengarkan sesuatu se-kaya ini terasa sangat menyenangkan.

Ada juga momen lain yang mirip-mirip. Ini berhubungan dengan mata.

Aku mulai memakai kacamata sekitar enam atau tujuh tahun lalu. itu pun dirasakan secara tidak sengaja. Saat pergi praktek kerja di pagi buta musim dingin, semuanya terlihat gelap dan kabur. Jadi aku memeriksakan dan langsung mendapat vonis -0,5 dan -2,50. Naturally I bought glasses dan setelah beberapa lama, saat berjalan ke kampus, aku melihat ada temanku di seberang jalan. Kami saling melambai, saling tersenyum dan tiba-tiba, DUAKK. Seorang pria berjalan cepat menubrukku dan tidak berhenti meminta maaf.

Pelipis kananku sampai cenut-cenut karena terhantam bingkai kacamata. Kacamatanya sampai miring sebelah. Dari yang asalnya miring sebelah itu, karena berusaha aku betulkan, jadi tambah parah. Sampai akhirnya patah.

Jadi aku mengerjakan skripsi dengan mata cacat dan kacamata sebelah tangkai saja. Sampai di Jakarta, tempat kacamata berharga lebih murah, aku membeli lagi. Yang 0,5 sudah jadi 1,5 dan 2,50 jadi 2,75.

Momen yang penting itu terjadi setelah aku mencoba kacamata baru dan kaget melihat, jerawat di pipi-pipiku, BANYAK BANGEEEEEEET. Di dagu juga ada. Semuanya jadi terlihat banyak setelah aku punya sepasang mata baru. Aku bisa mengidentifikasi tuh dengan momen-momennya Erica Hahn yang bilang ke Callie Torres, "You make see leaves." But instead of leaves, all I see is pimple. Lots of them.

Waktu aku ceritakan ke teman dekatku, dia cuma komentar, "Ignorance is indeed bliss ya."(bersambung)  


Posted at 08:12 pm by i_artharini
Make a comment  

"A Brand Called You"

(Rasanya aneh mulai mengetik untuk sebuah tulisan blog yang agak panjang (baca= lebih dari 140 karakter) karena ternyata kalimat-kalimat pendek yang membatasi itu malah lebih bisa membebaskan)

(Ketuk-ketuk kuku di meja kayu)

(Aduk-aduk bandrek instan)

(Seruput. Browsing-browsing dulu)

I think I don't care much for the world that I live in, where visibility is much appreciated than ability. And facts are not as important as the perception of it. But okay, I'll play along to these sayings by marketing gurus.

Rencananya, Jumat malam kemarin itu aku mau datang ke fX buat menonton komedi-komedi romantis dari Perancis. Sebuah jadwal events di FB mengalihkan tujuan pertama. Jadi aku datang dulu ke sebuah career coaching soal membangun personal brand.

Sepertinya sih ada beberapa orang yang aku kenal, hanya saja aku lupa membawa kacamata dan aku malas mengonfirmasi, hihihi. Ada orang yang ternyata juga sudah senyum-senyum sama aku. Nah ini seingatku sempat aku senyumin balik.

It's the initial moments of networking, the smile.

Karena tempat kerjaku yang bukan 'kantor' berorientasi keuntungan bisnis (walaupun keuntungan dari segi politis mungkin jadi lebih tepat, dibungkus dengan pretext sebagai produk edukasi), maka semua pembicaraan yang ada soal merencanakan karir, karir tidak sama dengan pekerjaan, zona nyaman, dan tips-tips karir itu jadi terdengar sangat asing. Maksudnya, aku tidak tahu bahwa 'perencanaan karir' itu adalah sebuah konsep yang dilakukan semua orang. Pertanyaan yang sering diajukan malam itu adalah, who doesn't plan their career?

Dari situ aku baru sadar, apa yang terjadi selama ini padaku, jobwise, sepertinya lebih karena keberuntungan. Jadi kalau misalnya sekarang aku sudah ada di satu tempat, itu bukan atas sebuah perencanaan. Hanya sekadar pure dumb luck.

Setelah melihat sebuah grafik karir yang dipampang di salah satu slide, apa yang aku alami itu terpetakan sempurna. Dengan pure luck itu juga pergerakanku setia mengikuti grafik, walaupun apa yang terjadi sesudahnya, itu yang masih harus dipetakan sendiri.

What are your hobbies, dreams, passions, even fetish? Because you can sell everything nowadays. 

Ah, jadi ini yang waktu itu dibilang oleh motivatar(ot) Oom Jimmy dan aku harus duduk diam mulai memikirkan konsep diri. Yeah, I haven't actually done that other than...I want to be Umar Kayam, a guy who knows everything, I think, about cultural references.

Tahu nggak, salah satu tip untuk jadi visible itu apa? If you're young, be loud. Come up with as many ideas as possible. Even when you fail, they'll see that you've tried. 

Loud, loud, hmm. Mungkin ini juga yang menyebabkan orang jadi menggunakan dan me-manage gosip mereka biar jadi 'tampak' dan dibicarakan. Selain tentu saja loud dengan ide-ide mereka.

Yang penting kan top of mind bukan, mbak dari Nielsen?

Sepertinya aku barusan mengalami pengeboran sudut pandang pemikiran. Ada hal-hal yang masih aku tanggapi sinis, tapi ketika dihadapkan pada pernyataan: having knowledge doesn't mean you like what you're doing, untuk sepersekian detik, ada sesuatu dari aku yang melayang dan ketika kembali lagi, melihat semuanya dengan sudut pandang baru. Mempertanyakan ulang dan merancang tujuan.

The Last Shadow Puppets bilang ini Age of Understatement, tapi aku yakin, when it comes to people, they are claiming and piling one statement of self over another.

Don't be afraid to re-invent yourself berkali-kali. 

Okay people, let's make 'me'.


Posted at 06:42 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 07, 2009
Micro-manage

Oke, F. I give up.

http://twitter.com/penarimungil 

Posted at 06:11 pm by i_artharini
Comments (2)  

Sunday, April 05, 2009
Curhat dan Semua Implikasinya

Selagi aku memikirkan ulang apa yang terjadi, mencoba membuatnya runut dalam pikiran untuk kemudian diketik sebagai (lagi-lagi) sebuah pelajaran, kesimpulan yang aku capai itu adalah, hmm aku sepertinya membuka pintu terlalu lebar buat orang lain menilai apa yang aku lakukan deh.

Dan ini bukan pertama kalinya. Maksudnya, aku sudah pernah sampai pada kesimpulan serupa untuk kasus yang berbeda. Cuma ya itu, kesimpulannya sebenarnya tetap sama.

So the story goes like this. Sebuah siang menjelang sore dan aku bergegas ke meja Ccr (haiyyah) untuk menyampaikan suatu kesimpulan yang aku yakini. Aku bilang ke dia, "Aku kayaknya nggak bakal cerita lagi ke xxx soal urusan hati deh."

"Kenapa?"

"Jadi gini, waktu itu kita sempat chat di YM, ngobrol, ngobrol, ngobrol, terus akhirnya dia menanyakan soal gimana kehidupan sosial gue sekarang. Dan gue bilang sesuatu lah ama dia. Tapi terus terputus karena emang internetnya mati. Sebelumnya dia sempat mendesak-desak untuk nanya, nyelidik, cerita, gitu deh. Nah terus internetnya mati kan. Eh terus dia sms, bilang gini, 'Yah, kok lu nggak online lagi. Padahal gosipannya pas lagi hot-hotnya. Kalau lu mau curhat, Nar, I'll be here." Pokoknya sebelum itu dia bilang, cewek-cewek juga pada percaya ama dia dan dia nggak bakal ember gitu deh.

"Nah terus, gue melakukan sesuatu yang membuat gue gundah lah intinya. Terus gue butuh second opinion. Gue tanyalah ama ini orang. Lewat telepon pula. Yang ternyata...tanggapannya malah membuat gue ngerasa sakit hati. Intinya dia menyesalkan dan membuat gue merasa such a slut. Walaupun, aku yakin banget nggak melakukan sesuatu yang salah. Aku percaya pada rasionalitasku dan nilai-nilai yang aku pegang dan caraku mengassess sebuah situasi, dan who is he to tell me stuff like that?"

"Okay dia temen sih. Tapi kan kita udah lama nggak ketemu juga. Dia nggak bisa menilai semuanya karena toh yang aku ceritain sama dia juga cuma setengahnya. Dan yang ngeselinnya, selama ini aku nggak pernah menghitung dia sebagai tempat bertanya. Like, he has one successful experience and he can preach to me about it?"

Nah ini baru bagian Ccr, yang mendapat cerita yang kurang lebih serupa dari orang lain, sebuah pengungkapan pendapat/penilaian orang lain yang membuat sakit hati penerimanya.

"Mungkin Nar, dari dua kasus ini, dia merasa bisa menyampaikan apa yang ada di kepalanya karena dia sudah merasa temen deket elu. Jadi dia bisa jujur aja."

"Dan well, yah, aku memberi dia izin sih untuk menyampaikan pemikiran itu," aku bilang. "Pokoknya dari situ aku jadi berkesimpulan untuk nggak ngomong soal apa-apa lagi yang esensial ke dia deh. Tahu kan ada orang yang cocok elu tanyain soal hal-hal ngawang, atau hal-hal praktis, nah ini sih cuman buat didenger ceritanya aja dan percakapan basa-basi. Itu aja cukup aku rasa."

Dari situ terus aku beralih.

"Tapi gue ngerasa ada sesuatu yang aneh di sini. Aku melihat sekitarku dan merasa curhat hal-hal yang berhubungan dengan hati itu terus jadi alat untuk membangun kedekatan, ya personal dan profesional. Gue jadi kehilangan arah itu di sini, seharusnya kan...kedekatan-kedekatan itu bersifat profesional bukan? Yang elu dikenal dari kompetensi elu? Tapi aku ngerasa curhat urusan hati itu jadi berpengaruh untuk ngerebut perhatian sampai akhirnya itu berbuah jadi...elu lebih dikenal dan dianggap gitu. Jadi gue berpikir, apa aku harus mulai mencurhatkan masalah pribadi di kantor, just to get ahead?"

"Enggak, Nar. Jangan ngikutin pola-pola kayak gitu lagi. Ya mungkin emang ada orang-orang yang bisa didekati dengan cara kayak gitu..."

"Tapi siapa ya? Dan maksudnya, aku juga nggak segitu pedenya nganggep orang-orang yang aku curhatin to get ahead itu, bakal peduli ama masalahku, hahaha." 

"Nggak, nggak. Gini, Nar. Kalau pas gue lagi nggak produktif banget, males banget deh pokoknya, Silver Fox itu walaupun lewat-lewat depan sini, nggak mau nyapa. Ndiemin aja. Tapi pas gue ngerasa kerjaan gue lagi maksimal, bagus, dia bakal dateng, ngajak ngobrol soal hal-hal lain. Itu kan bentuk perhatiannya dia. Dia nggak muji sih, itu bukan cara dia. Tapi elu bakal dilibatkan ke sesuatu, didatengin ke meja, dan dia ngobrol secara khusus. Iya kan?" 

Iya juga sih, aku jadi teringat sama beberapa kali didatangi Silver Fox dan baru saja dilibatkan untuk sebuah pertemuan dan proyek dengan pihak eksternal.

"Masak dari halaman-halaman POP elo yang maksimal itu, elo nggak merasa dia memperhatikan? Dan sebenarnya, di sini, perhatian dia kan yang seharusnya elo dapetin? Bukan yang lain-lain? Biarkan pekerjaan lo aja yang menunjukkan siapa elo sebenarnya. Bukan cerita-cerita pribadi elo," ujar Ccr lagi.

Aku cuma manggut-manggut.

Dan setelah gue menyampaikan pertanyaan yang sama pada Jer (haiyyah, sharing teruuss), soal memang tidak patut menceritakan soal-soal pribadi ke para atasan, tapi kok itu jadi lazim dilakukan untuk get ahead? Ternyata selagi aku mengungkapkannya, aku baru sadar inti masalahnya, ini cuma bersumber pada beberapa subjek saja, yang kemudian metodenya terasa jadi hegemoni.

Dan setelah dipilah-pilah, para atasan itu juga punya cara tersendiri untuk menilai kompetensi. Yang bisa didekati dengan pendekatan pribadi, mungkin hanya satu. Lainnya, ya memang hanya bisa dibuat terkesan lewat pekerjaan. "Dan iya ya Jer, aku lebih berharap bisa membuat terkesan yang ini daripada yang itu," aku bilang.

"Naaaahhhh kan."

"Karena dia diem aja gitu, maksudnya lempeng aja gitu mukanya. Jadi it would count as something gitu kalau aku bisa membuat dia terkesan. Iya nggak?"

"Iya kan? Dan dia tuh orang yang menyenangkan juga buat bertukar pikiran. Bisa memotivasi buat urusan-urusan profesional."

Ini semuanya sepertinya seperti pemahaman remeh, yang sering diulang-ulang di halaman karir berbagai majalah perempuan. Tapi sampai aku mengalaminya sendiri, ternyata nasihat-nasihat itu cuma sekadar pengulangan tanpa makna.


Posted at 11:17 am by i_artharini
Make a comment  

Paket

Ini hanya sebuah cerita kecil saja yang ingin aku tulis. Daripada cerita, mungkin lebih tepatnya sebuah catatan akan emosi. Agak-agak aneh sih dan tidak begitu signifikan, cuma tetap ingin aku simpan.

Setiap aku menggunakan jasa pengiriman ekspres untuk mengirim sesuatu ke tempat yang jauh, terus beberapa hari kemudian aku mengecek status pengirimannya lewat kode-kode angka, dan melihat kiriman itu sudah sampai di alamat yang dituju, ditandatangani oleh seseorang yang asing, dibuka dan terkena udara yang ingin aku hirup, rentetan semua itu tidak pernah gagal membuatku merinding.

Seperti merasa ada bagian super kecil dari diriku yang sudah sampai di situ, tempat yang ingin aku tuju, tapi belum kunjung sampai ke situ...Aku jadi membayangkan, buat yang sudah sampai di tempat-tempat itu, mungkin kebahagiaan mereka menghasilkan suatu pengalaman out-of-body gitu kali ya? 


Posted at 10:47 am by i_artharini
Comment (1)  

Next Page